Dahaga Hidup yang Sementara
Baru saja kumerasakan
Betapa pahitnya dikhianati
Namun kini mentari pun terbit dengan
sinarnya
Memanjakan setiap nafas yang
membutuhkannya
Kunikmati
kesejukan itu, dahaga itu, kesembuhan itu, kedamaian itu
Tapi
sayang, sungguh sayang
Sang
Maha Cinta pun tak bisa memberi waktu yang lebih
Bunga sudah enggan bernyanyi
Mentari pun berpindah ke lain hati
Ditemani hujan dalam kesunyian ini
Mencoba
berdiri pun sulit
Menapaki
hidup bak menapaki bukit
Dunia
ku sekarang terasa hampa
Karena
dahaga hidup yang sementara
By : Sabriantoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar